Tips Cerdas ASI Eksklusif dan Wanita Karir

Tips Cerdas ASI Eksklusif dan Wanita Karir

Menjadi wanita karir adalah pilihan. Menjalaninya sambil memberi ASI eksklusif adalah pilihan yang tidak mudah. (calon) ibu menyusui seringkali merasa bingung, merasa bersalah, frustasi karena merasa tidak (akan) punya cukup waktu untuk Si Kecil.

Dan ini faktanya. Sebuah studi selama 50 tahun yang dipublikasikan oleh American Psychological Association (Asosiasi Psikologi Amerika) menunjukkan bahwa wanita karir yang bekerja kembali sebelum anaknya berusia tiga tahun tidak memiliki dampak bermasalah terhadap perilaku maupun akademiknya. Ini berarti, pemberian ASI tidak mengalami masalah. Bahkan, banyak ibu yang justru merasa lebih powerful dengan menjadi mom’s career (ibu-wanita karir).

Coba bayangkan. Anda seorang wanita muda yang memiliki anak berusia beberapa bulan dan menduduki jabatan eksekutif atau jabatan penting di sebuah perusahaan. Kesibukan anda tentu menuntut untuk dapat membagi waktu di dua tempat, yakni keluarga dan pekerjaan. Dua-duanya harus sama-sama berjalan dengan baik.

Aktifitas anda dimulai pagi-pagi bangun dan menyiapkan kebutuhan Si Kecil. Baik memandikan, mengganti popok, dan menyusuinya.

Sambil menyiapkan semua itu anda juga harus menyiapkan sarapan untuk suami atau anak anda yang lain (jika ada). Setelah itu, anda menyiapkan semua keperluan yang harus dibawa ke tempat kerja. Hingga semua selesai, anda sudah siap berangkat dan meninggalkan rumah.

Tapi tunggu dulu. Bagaimana dengan si kecil? Apakah anda tinggal begitu saja dan mengganti dengan susu formula ketika dia harus menyusu? Atau kalau tidak, mungkinkah anda dapat melakukannya dengan membawanya ke kantor? Bagaimana dengan kualitas ASI dan kenyamanan bayi anda? Apakah cukup diserahkan kepada asisten rumah tangga? Bagaimana kalau tidak punya asisten?

Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat anda temukan di dalam pembahasan tentang cara menyiasati memberi ASI ekslusif tanpa harus meninggalkan pekerjaan. Menarik, bukan?

Majalah TIME menuliskan bahwa wanita karir dan seorang ibu dengan anak kecil tidak membuat sang ibu lebih buruk. Sebaliknya, kualitasnya sebagai ibu semakin meningkat. Sekali lagi, itu adalah pilihan. Dan jika anda memilih berkarir tapi ingin tetap mengasuh dan menyusui anak dengan baik, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menyiasatinya.

  1. Bangun (lebih) Pagi

Seorang ibu dengan anak yang masih dalam program ASI eksklusif tentu mendapat tambahan kesibukan. Ia harus bisa menyusui Si Kecil setiap hari. Tambahan kesibukan ini bagi wanita karir dapat disiasati dengan bangun lebih pagi. Dengan begitu, pekerjaan lain sebelum menyusui dapat diselesaikan.

 

Aktifitas pagi dapat anda lakukan dengan mulai menyiapkan keperluannya, mengepak barang dan keperluan lain (jika anda memiliki anak kecil lain), dan memasukkan baju kotor ke dalam bak cuci dengan segera. Semua keperluan tersebut akan lebih efektif jika langsung anda letakkan di dekat pintu, sehingga saat waktunya keluar anda tinggal mengambilnya tanpa ada yang tertinggal. Saran ini direkomendasikan oleh Amanda Wiss, pendiri dan penyedia organizer untuk keluarga yang berbasis di Brooklyn.

 

Keuntungannya adalah anda dapat menghemat waktu untuk hal-hal yang sepele sehingga anda masih dapat menikmati sarapan pagi dengan keluarga maupun menemani Si Kecil sesaat sebelum berangkat bekerja. Keuntungan lainnya adalah aktifitas ringan di dalam rumah saat pagi dapat membantu ibu menjaga kondisi tubuh tetap bugar yang sangat bermanfaat dalam kualitas ASI. Dengan berkeringat, ibu sudah bisa dikatakan berolahraga ringan (excercise).

  1. Mengajukan cuti

Pada era pemerintahan presiden SBY, Menteri BUMN Dahlan Iskan membuat sebuah kebijakan kontroversial terkait kaum hawa yang sedang hamil. Dahlan memutuskan untuk memberikan cuti penuh bagi pegawai BUMN yang sedang hamil hingga masa menyusui selesai. Alasannya, wanita perlu perlakuan khusus dalam menangani anaknya. Dengan pengasuhan yang fokus pada masa ASI eksklusif maka akan dihasilkan generasi yang sehat, baik secara mental dan fisik.

Namun, seringkali tidak semua perusahaan memberikan keistimewaan demikian. Padahal dalam Undang-undang No. 13 Tahun 2003 sudah jelas melindungi hak-hak wanita hamil dan menyusui. Bila seperti itu kenyataanya, anda dapat mengomunikasikannya dengan pihak perusahaan untuk meminta pengurangan jam kerja atau keringanan selama masa ASI eksklusif tersebut. Dengan demikian kedua belah pihak dapat saling mengetahui dan mengerti.

Sebaiknya dikomunikasikan juga dengan keluarga bagaimana solusi terbaik agar anda dapat menjaga kualitas ASI untuk Si Kecil. Meskipun demikian, bukan berarti anda tidak produktif atau dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dalam bekerja. Pengajuan cuti atau pemberian keringanan oleh perusahaan tempat anda bekerja dimanfaatkan semata-mata untuk kepentingan anda dan Si Kecil.

  1. Memiliki asisten part-time

Mengatasi pekerjaan rumah tangga sendirian tanpa memerlukan asisten tak masalah selama anda masih mampu. Namun kalau anda memiliki kesibukan yang padat beda lagi. Dengan memiliki asisten anda akan sangat terbantu tentunya untuk mendelegasikan tugas yang masih bisa ditanganinya.

 

Lalu kenapa harus part-time? Ini untuk menjaga kemungkinan di kemudian hari anda sudah merasa mampu untuk kembali melakukan aktifitas dan pekerjaan rumah tangga dengan sendirian setelah selesai masa ASI eksklusif. Seandainya anda masih mau melanjutkan karena khawatir Si Kecil tidak tertangani dengan baik, carilah agen yang menyediakan asisten rumah tangga berkualitas. Presiden Browstone Nannies, Inc., Sharon Tepper, merekomendasikan agar mencari asisten yang memiliki pengalaman dan berkomitmen terhadap keluarga. Sedikit mahal memang dibanding tidak melaui agen. Namun, jika pilihan anda demi si kecil dan agar karir dan pengasuhan anak tetap berjalan seimbang, maka itu adalah pilihan yang baik.

 

Dalam memilih jasa pengasuhan anak (childcare/daycare) Tepper memberikan beberapa kriteria, di antaranya reputasi lembaga/perusahaan, rasio pengasuh dengan jumlah anak yang diasuh, pengasuh yang bersertifikat, memilki waktu yang fleksibel, dan

 

  1. Membuat jadwal rutin

Dengan memiliki timetable (aktifitas terjadwal) yang tertulis anda akan lebih mudah dalam membagi waktu pemberian ASI dan menyelesaikan pekerjaan. Saat tiba waktu menyusui namun anda tidak dapat memberikannya secara langsung, anda dapat menggunakan jasa kurir ASI yang saat ini sudah tersedia. Dengan demikian, anda dapat menjalankan tugas sebagai ibu menyusui dan sebagai wanita karir tetap berjalan dengan baik.

Jadwal rutin ini dapat dibagi ke dalam jam-jam tertentu menyesuaikan dengan kebutuhan dan keefesianan waktu. Biasanya setiap 1-3 jam. Jika dimulai pukul delapan pagi berarti menyusui lagi dua jam berikutnya dan begitu seterusnya. Jadi, sebaiknya di tentukan jamnya.

 

  1. Bekerja part-time

Ini bisa menjadi pilihan jika anda tipe ibu yang memutuskan berhenti bekerja namun tidak bisa “diam”. Studi di University of North Carolina selama 10 tahun terjadi ibu-ibu menunjukkan bahwa ibu yang bekerja relatif lebih sehat mentalnya dibanding dengan ibu yang hanya berdiam di rumah tanpa ada aktifitas atau kesibukan apa pun. Masih dalam studi tersebut, bekerja paruh waktu, juga full time dapat menghindarkan dari tekanan depresi. Pekerjaan paruh waktu yang bisa dilakukan di rumah banyak sekali. Salah satunya anda bisa menjadi penulis atau penerjemah. Bukankah menyenangkan jika itu hobi anda dan anda lakukan sambil mendampingi bayi Anda.

Selain di atas anda dapat memulai bisnis kecil-kecilan sebagai penopang keuangan keluarga. Dari sini penghasilan yang diperoleh dapat digunakan untuk keperluan si baby. Memulai bisnis sebagai ibu rumah tangga sekarang menjadi lebih mudah dengan adanya internet. Anda bisa memasarkan secara online, baik melalui media sosial, blog atau media promosi lain yang bersifat online.

Pertanyaannya adalah siapkah anda menjadi mama yang berkarir di perusahaan atau mama yang “berkarir” di rumah?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *